Jumat, 25 Mei 2012

Garis Hidupku
Kutertunduk lemah dengan segala impian
Jalan takdirku akan segera terlihat
Akankah datang tetesan air mata kebahagiaan
Atau malah seribu kepahitan yang mendera
Lantunan doa mengiringi langkahku
Rebahkan tangan dan sujudku padaMu
Izinkan Tuhan kuraih cita – citaku
Ulurkan segala ridho untuk jalan hidupku
Akukan terus yakin
Bahwa akukan dapatkan sesuatu yang terbaik
Demi masaku dihari nanti
Yang tak pasti kuketahui
Namun akukan selalu bersyukur
Tuk jalani garis hidupku
Yang telah tertulis dan pasti terjadi

by : Rifky Nur Ahdini
Sang mantan

ketika ku lalui hari-hari bersamamu
Tawa dan canda terlukis di bibirku
Semua cerita tentangmu begitu indah bagiku
Indah rasanya ketika ku miliki dirimu
Indah rasanya
Kini…
Semua tinggal kenangan
Kenangan yang takkan terulang
Kenangan yang takkan kembali
Kau pergi tinggalkan aku
Karena kebodohan ku
Kata maaf tak dapat mengembalikanmu
Kata maaf tak dapat mengulang waktu
Kata maaf tak dapat mengetuk pintu hatimu
Kata maaf tak dapat mengembalikan kepercayaanmu
Harapan akan selalu tergantung dalam diriku
Harapan untuk memilikimu kembali
Walau semua semu
Dan takkan terjadi
Aku mencintaimu dengan setulus aku
Takkan pernah terhapus sedikitpun kenangan saat bersamamu
Walau kau takkan termiliki lagi oleh ku
Namun kau adalah kenangan terindah bagi ku

 oleh: Umii Kulsum
Ibu

Tak henti – hentinya aku mengucap syukur karena telah memiliki sosok ibu sepertimu
Kau rela memperjuangkan hidup dan matimu untuk melahirkanku kedunia ini
Rela menjagaku selama 9bln meski masih dalam kandungan
Dan rela menyitakan waktumu hanya untuk membesarkan dan mendidikku
Ibu.. Kasih sayangmu tak kan bertepi
Kepedulianmu selalu di hati
Kau pelipur lara yang kan abadi
Jiwaku hilang jika tanpamu
Baktiku hanya untukmu
Ketulusan hatiku kan ku lakukan hanya untuk membuatmu tersenyum
Meski lakuku selalu membuatmu sedih
Namun kau selalu mendoakan ku dalam setiap doa yang kau panjatkan
Kasih sayangmu tak kan bisa di bayar dengan uang
Kehadiranmu tak kan bisa di gantikan
Kebahagiaanmu adalah obat untuk langkah hidupku
Ibu.. kau selalu mengajarkan kebaikan untukku
Kau selalu mengingatkan ku jika ku berlaku dan berucap salah
Belaian kasihmu mampu mendamaikan hatiku
Terima kasih atas semua yang telah kau berikan pada malaikat kecilmu ini
Selamat hari ibu
Semoga Tuhan selalu menjaga ibu

by : Rifky Nur Ahdini
Sahabat
Sahabat
Walau kini kita tak slalu bersama
Aku ingin kita selalu dekat
Sahabat
Walau kini kita jauh
Aku ingin kita saling menghubungi
Sahabat
Kau tau betapa berharganya dirimu?
Kau lebih berharga dari sebongkah emas
Sahabat
Kau tau kenapa?
Karena mencari seorang sahabat seperti kau bukanlah hal yang gampang
Sahabat
Kini ku ucapkan “Aku akan selalu menjadi sahabatmu”
Kini kau ucap juga di sana :)

Karya:Aliyah istikomah
CERITA TENTANG CINTA PERTAMA KU.
Kenangan-kenangan akan cinta pertama akan tetap tinggal di sana, dan tampaknya belum mau pergi…
Ah, apa yang lebih menyenangkan dari membahas sesuatu yang bersifat merah jambu? Tiba-tiba saja, saya kembali menyukainya, padahal saya sudah lewat dua tahun dari kepala dua! Sudah tidak pantas rasanya membahas sesuatu yang acap terjadi pada masa penuh badai alias remaja. Saya sedang galau tampaknya, kalau meminjam istilah anak muda sekarang.
Malam itu, saya dan teman-teman SMA pergi menuju studio foto. Biasalah, acara kumpul-kumpul selalu dianggap belum lengkap tanpa memasang gaya ter-oke untuk kemudian, jepret. Saya sudah melihat sosoknya beberapa meter sebelum sampai lokasi, ia sedang di parkiran studio foto, bersiap pergi. Widiww… ada dia, bo! Sudah lama memang kami tidak bertemu. Kabar yang saya tahu, dia sudah lulus kuliah di politeknik, dan sudah bepergian ke beberapa kota dalam rangka bekerja. Beberapa bulan lalu ia juga sempat mengubungi minta dicarikan kamar kosan untuk adiknya yang kini kuliah di UPI. Well, episode-episode masa lalu itu langsung terpapar.
Kawan, ia adalah seseorang yang di masa putih-biru sempat membuat jantung saya kembang-kempis. Hahaha, silakan tertawa! Sayapun sebenarnya ingin tertawa saat ini-dan memang saya tertawa! Maka, saya mencuri-curi waktu untuk menulis cerita yang tidak penting ini, sekedar ingin membaginya denganmu, kawan.
Kalau dulu kau mengenal saya, mungkin kau akan tertawa, sama seperti apa yang dilakukan teman-teman SMP saya. Dulu saya terkenal galak sekaligus cengeng. Sebagai ketua kelas selama hampir tiga tahun, rasanya tak pernah terlewat satu haripun tanpa marah-marah di depan kelas yang dilanjutkan dengan rasa lelah setelah marah-marah, dan diakhiri dengan curhatan yang dilakukan dengan hampir terisak. Ckck, saya sendiri tak percaya dulu saya seperti itu, kalau teman-teman SMP tidak menceritakannya kembali pada saya, parahnya sambil tertawa terbahak-bahak. Saya percaya dulu saya seperti itik buruk rupa (kalau sekarang? Setidaknya saya mensyukuri), dengan jerawat di sana-sini dan wajah yang sangat berminyak. Rambut yang ditata sekenanya, cara berjalan yang tidak feminim, rok yang melebihi lutut… ah, seandainya sayapun mendapat nilai yang jelek dan bukan adik dari ketua OSIS sebelumnya, mungkin saya juga tidak akan menjadi anak yang beken dan menjadi ketua kelas berturut-turut.
Mungkin karena alasan itulah, mengapa tak ada seorang teman laki-lakipun yang menaruh hati pada saya. Mungkin karena fisik saya yang kalah jauh dengan teman-teman perempuan lain, mungkin pula lantaran saya galak jadi mereka takut. Tapi saya mensyukurinya, apalagi setelah menggunakan jilbab di akhir masa putih-biru. Saya memang tak memikirkan untuk punya pacar.
Lalu sosok itu hadir begitu saja, tiba-tiba dan tanpa permisi mengganggu hari-hari saya. Ah, dia memang pengganggu dengan segenap tingkah laku jahilnya pada saya. Katanya, ia ingin seperti Indra atau Tyo, sahabat-sahabat saya, yang memang karena dekatnya sering mengganggui saya. Saya tak pernah menggubris orang ini, tak pernah menjadi teman apalagi sahabat. Tidak. Tapi ia hadir di sana, di hati saya, bertahun-tahun. Tuhan, terima kasih tak pernah membiarkan saya mengenalnya, tak pernah membiarkan saya terlibat pembicaraan dengannya karena yang saya tahu ia menyimpan rasa itu pada saya sampai SMA. Lantaran saya yang tidak bisa bersikap manis, atau belajar terbuka terhadapnya, pada akhirnya ia memiliki pacar.
Saya lega sekali saat itu. Harusnya, saya menyesali atau setidaknya merutukki diri saya sendiri karena tak pernah mau mencoba memiliki pasangan. Tapi, perasaan akan kesadaran bahwa ada seseorang yang membuat kehadiran saya bermakna, rasanya sudah cukup bagi saya. Lebih dari cukup bahkan.
Agak berlebihan memang kalau saya menuliskan tentang ini. Namun rasanya, ketika saya memutuskan untuk menulis, sudah tak ada lagi beban perasaan yang bergelayut. Dulu memang lelaki itu sempat singgah beberapa lama di sana, di satu ruang yang apik tak pernah diketahui orang lain. Dulu memang, jantung saya kembang kempis meskipun hanya melihat sosoknya dari jauh. Dulu memang  saya sempat mengagumi sosoknya yang rajin ke masjid, meskipun bukan anak rohis ataupun setipe  dengan istilah ikhwan yang saya tahu sekarang. Ia hanya anak biasa, hanya saja memiliki minat lebih pada olahraga basket. Ia hanya anak biasa yang memiliki geng seperti remaja ‘nanggung’ lain. Ia hanya anak biasa yang nilai-nilai pelajarannya rata-rata. Tapi saya menaruh simpati pada kebiasaannya shalat di masjid dan menaruh hormat pada orang tuanya.
Ah, sekarang saya justru ingin menertawai diri saya sendiri kalau mengingatnya. Kalau mengingat betapa kami dulu sama-sama saling memendam rasa dan tak pernah coba mengungkapkannya, baik dalam ucapan maupun tingkah laku. Ya, mungkin hanya sebatas itu saja yang bisa kami lakukan.
Hm, kenangan-kenangan akan culunnya masa-masa sekolah menengah saya muncul malam itu, ketika saya kembali bertemu dengannya. Namun tak seperti dahulu, saya menyapanya dan berbasa-basi sedikit. Pada akhirnya, kami memang berteman saja dan itu membuat segalanya lebih baik. Dan perasaan itu sudah tersimpan jauh di sana, kalaupun muncul, itu bukan lagi dalam balutan sensasi merah jambu.
Membawa peti dari malaka
Berisi pakaian si anak raja
Kalau hati sudah merasa suka
Semua keadaan indah di mata

Pohon selasih tumbuh melata
Tumbuh perdu jauh di sana
Sepasang kasih mabuk bercinta
Siang merindu malam merana